Gelisah

1 Jun

Episode Kick Andy semalam adalah tentang para pejuang veteran. Dibuka dengan dengan percakapan antara Andy dan Dedy “Nagabonar” Mizwar. Ya, film Nagabonar Jadi 2 memang sedikit banyak mengupas masalah kepahlawan. Nagabonar yang seorang pahlawan dan kegelisahannya akan jaman ini. Termasuk bagaimana caranya mengatasi “gap” gaya hidup plus pemikiran antara seorang ayah dan anak. Representasi jaman dulu dan sekarang.

Namun bukan itu yang bikin saya tertarik. Ada satu part yang bikin saya terheyak. Ucapan seorang veteran (-wati) tentang generasi masa kini yang cengengesan kala menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya lantas teringat. Dulu waktu wisuda di Universitas yang memang ada embel2 veterannya kami harus menyanyikan lagu kebangsaan. Entah mengapa saya jadi pengen ketawa. Keinget jaman dulu waktu masih SMU. Saya emang kurang ajar banget. Bukannya nyanyi, tapi ngintipin temen-temen dari jurusan lain. Ternyata mereka pada serius-serius.

Nah si veteran (-wati) ini memang sedang sangat gelisah. Ia kecewa mengapa tidak ada rasa hikmat sama sekali. Ia lantas memperagakan bagaimana menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan. Saya rasa ini bukanlah kegelisahan tentang lagu Indonesia Raya semata. Bukan pula pada “berhala” yang lain seperti si gagah garuda pancasila, sang perlambang sakti merah putih, dll. Namun ini adalah kegelisahan tentang bangsa ini. Tentang injak-menginjak yang menjadi sangat lazim.

Saya sebagai koranholic, akhir-akhir ini selalu skip baca tentang berita bencana. Apalagi jika berita itu lanjutan dari berita awal. Bukan karena malas baca. Saya makin nggak tega baca. Peringatan 1 tahun lumpur Lapindo yang di salah satu koran nasional di buka dengan foto A genangan lumpur dari udara membuat saya miris. Jangan salahkan jika masyarakat di sana jadi galak. Hidup yang ditata bertahun-tahun hancur karena kesalahan yang dibikin oleh orang lain. Kasus hunter Pasuruan adalah gambar betapa nyawa menjadi sangat mudah hilang. Seorang korban meninggal saat ia memasak di dapur. Nah, jangan-jangan sekarang semua orang musti pakai rompi anti peluru, karena terbunuh menjadi sangat mudah. Peluru seperti punya mata menyasar orang-orang yang nggak mungkin protes karena kerabatnya meninggal. Kasus Meruya dan ratusan kasus lainnya membuat saya pedih…Kami ini bangsa yang selalu di hampiri bencana. Namun hal itu tidak membuat setiap orang jadi saling sayang. Yang kuat, yang punya kapital, kekuasaan justru menjadi sangat menakutkan bagi kami…..

…………………..
“Jenderaaaaaal …..” Aku berteriak keras menyaingi lalu lintas di sekelilingku. “Siapa yang kau hormati siang dan malam itu?” Aku melihat ke arah jalan raya. “Apa karena mereka yang lalu lalang di depanmu itu memakai roda empat, Jenderal? Bah, tidak semua dari mereka pantas kau hormati, Jenderal. Turunkan tanganmu!”
…………………
(Buku Nagabonar Jadi 2 (p.91), Akmal Nasery Basral)

14 Responses to “Gelisah”

  1. Anang June 1, 2007 at 05:37 #

    nonton filmnya ah..

  2. Hedi June 1, 2007 at 08:13 #

    Kalo aku sih selalu respek sama lagu kebangsaan, kalo pun ga berdiri dengan benar, tetep ga pake cengengesen. Buat aku, lagu itu berkesan magis hehehe

  3. muthe June 1, 2007 at 13:35 #

    ngg…aku juga nggak suka denger berita bencana alam, habis gak ada putus2nya..dan aku gak bisa ngapa2in lagi…dan aku gak pernah nyanyi sambil cengengesan soalnya…entah kenapa lagu indonesia raya itu terkesan sangat khidmat. kerasa banget deh kalo ikut nyanyinya pas upacara bendera…

  4. nico June 1, 2007 at 15:59 #

    gimana mo khidmat, wong anak muda sekarang doyannya hura-hura. ditambah lagi diserbu dengan ajakan “free entry for ladies”, “party at saturday with Dj …. and h**** sexy dancers”. bner ga?

  5. Hendra Ciptawan June 2, 2007 at 12:05 #

    Serial film nagabonar emang penuh dukungan moral, pantas dan berbobot buat di tonton.

  6. tita^_^ June 3, 2007 at 07:51 #

    dalem nja. jadi mengingat-ingat dulu waktu nyanyi Indonesia Raya aku cengengesan gak ya? jadi pengen malu.#^_^#

    MERDEKA!! semoga kita sudah merdeka dengan sebenar-benarnya.

  7. Tia June 4, 2007 at 00:18 #

    APA KATA DUNIA?!

  8. erander June 4, 2007 at 04:33 #

    Pengalaman .. itu yang membuat sesuatu yang berbeda. Orang yang tidak pernah berperang dengan orang yang berperang, tentu akan beda penghayatannya. Sama halnya, orang yang terkena musibah dengan orang yang hidupnya aman2 saja, pasti juga beda penghayatannya. Oleh karena itu, mengapa ada istilah empati. Suatu peristiwa yang coba kita rasakan walau kita tidak mengalaminya. Mungkin generasi sekarang rasa empatinya yang berkurang. Tidak ada kata terlambat untuk tidak belajar berempati.

    Oya .. saya baru online lagi, setelah 12 hari melanglang ke Jakarta, Jogjakarta dan Magelang.

  9. Zawa June 4, 2007 at 12:32 #

    *Apa kata zawa* ahahahaha… :P

  10. nuuii June 5, 2007 at 09:27 #

    Mungkin gw jg bukan termasuk WNI yang patriotik [bener nga sih bahasa gw jd nga PD nih ;D ] tapi gw selalu diam,terharu dan meresapi setiap lagu indonesia pusaka berkumandang :

    Indonesia tanah air beta
    Pusaka abadi nan jaya
    Indonesia sejak dulu kala
    Tetap dipuja puja bangsa

    Di sana tempat lahir beta
    Dibuai dibesarkan bunda
    Tempat berlindung di hari tua
    Tempat akhir menutup mata

    lebih suka “indonesia pusaka” bukan karena gw nga meresapi lagu “Indonesia raya” lhoo nja.. ;D

  11. Dewie June 5, 2007 at 18:14 #

    Jendral….
    Sekarang yang banyak Jenral Kantjil…. :(

  12. akmal n. basral June 11, 2007 at 10:49 #

    kegelisahan yang bagus, onlysenja.
    thanks juga sudah ngutip dari bukunya.
    sebetulnya saya juga diundang pada syuting tema itu, tapi kebetulan sedang di luar kota.

    eh, salam kenal. saya penulis novelnya.

    ~a~
    anb99@yahoo.com

    ps: kalo ada input lain soal novelnya, silakan japri ya.

  13. santribuntet June 12, 2007 at 12:19 #

    yaa itulah Jeng Indonesia kita rasanya tengah merana… tapi anehnya bagi yang tak menyentuh derita biasa2 saja… mungkin seperti saat menyenyikan lagu IR itu tanpa ekspressi… blog ini rupanya ingin menyadarkan tentang rasa empati …

  14. Iwan D July 29, 2007 at 09:52 #

    Jangan sampai Ibu pertiwi murka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.