Pagi saya yang damai, rusak oleh kabar ini..
Kita tentu belum lupa dengan ledakan bom bunuh diri Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo (25/9). Peristiwa itu menewaskan 2 orang, salah satu diantaranya adalah pelaku yang disinyalir bernama Ahmad Yosepa.
Sesaat setelah bom tersebut meledak, aneka komentar dan nada keprihatinan bermunculan di media sosial -sebelum akhirnya dilansir media secara massif. Komentar yang muncul seputar hujatan terhadap pelaku bom dan himbauan banyak pihak untuk tidak sembarang bicara –apalagi yang bernada provokatif– terkait dengan peristiwa tersebut. Komentar – komentar yang tidak arif, dianggap justru membuat suasana tambah panas.
Sosial media memang agak adem kali ini, namun hingar bingar tetap menjadi warna dominan di TV dan koran. Celakanya pagi ini, kabar terkait hingar bingar konyol itu mendapat peneguhan dari seorang teman baik yang menjadi kontributor salah satu media nasional yang Senin kemarin bermaksud melakukan liputan bom bunuh diri di Solo.
Begini kisahnya;
R (sebut saja begitu) layaknya wartawan media lainnya melakukan liputan di Solo. Seperti biasa, peristiwa yang besar selalu menyisakan cerita-cerita informal dari informan-informan yang “mengetahui” dan melengkapi cerita secara lengkap. Dari beragam cerita yang muncul sebagai latar belakang, salah satu kepingan yang kemudian dikerumuni banyak wartawan adalah warung milik Karti. Warung ini menjadi perbincangan karena disinyalir Ahmad Yosepa menyempatkan diri makan 2 nasi bungkus di warung sebelah Gereja tsb sebelum melakukan aksinya di GBIS.
Nah, ibu pemilik warung inipun sontak menjadi narasumber dadakan. Dikerumunin wartawan cetak dan koran. Ia pun ditanya macam-macam seputar Ahmad Yosepa. Misalnya, menu apa saja yang dimakan, bagaimana perilakunya dan tetek bengek lainnya. Dan seperti yang sudah-sudah statemen si mbak warung inipun muncul di TV.
Penasaran dengan fenomena selebritis dadakan, wartawan R inipun kemudian berbincang dari hati ke hati dengan mbak warung. R mencoba ngobrol sebagai pengunjung biasa. Dan komentar yg muncul dari pemilik warung tersebut justru membuatnya terkejut. Pasalnya, mbak warung – yang statemennya sudah muncul di TV – ternyata tidak cukup yakin bahwa yang makan di warungnya adalah Ahmad Yosepa. Keterangan yang ia berikan kepada sekumpulan wartawantersebut sekedar gambaran situasi warung dan pengunjung secara umum yang mampir di warungnya menjelang hari naas itu.
Wartawan R yang terlanjur penasaran ini lantas mencoba menanyai lagi si mbak warung mengapa berani menjawab ini itu sedangkan ternyata ia tak tau pasti. Kesimpulannya, si mbak mengalami situasi “undepressure” karena berondongan pertanyaan, dan merasa tidak punya peluangan untuk menolak realitas wartawan yang sudah “menyodori skenario cerita” bahwa si Ahmad Yosepa sempat makan di warungnya sebelum melakukan aksi bom bunuh diri.
S.O.S
Percaya atau tidak. Yakin atau tidak. Kejadian seperti ini sering terjadi. Ada berapa hal yang memungkinkan awak media tidak teliti dalam memunguti kepingan peristiwa;
1. Tuntutan deadline membuat liputan harus bisa dilakukan secepat mungkin. Kecepatan memang seringkali berbanding terbalik dgn ketelitian. Ketelitian ini termasuk didalamnya rasa kritis terhadap fakta.
2. Setiap media berlomba-lomba untuk mendapatkan fakta baru secepatnya. Dalam prakteknya, kombinasi antara jebakan “ingin yang terdepan” dan peristiwa bombastis adalah ibarat bumbu yang menghasilkan masakan pedas menggigit.
3. Dalam buku-buku jurnalistik, wartawan” diwajikan” apatis terhadap semua fakta. Cek, cek dan cross check adalah modal awal untuk mendapatkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kesimpulannya;
1. Wartawan itu pelaku sejarah. Diamanati informasi untuk diteruskan ke khalayak luas. Bombastisme, sensasionalisme cenderung jauh dari objektivisme, jauh dari kejujuran realitas. Dan yang pasti khalayak tak memerlukan itu.
2. Realitas yg ditayangkan media seharusnya realitas yang berdasarkan kerja panjang jurnalistik yang bisa dipertanggungjawabkan secara etika dan teknis. Titipan dari wartawan R tadi, wartawan seharusnya memperhatikan dan memikirkan aneka peluang fakta yang mungkin terselip diantara jutaan kepingan puzzle peristiwa.
3. Oya, lucu tapi penting, bahwa dalam serentetan peristiwa selalu ada “selebritas dadakan” dengan alasan dan motivasi apapun. Hanya dengan bekerja dan menyimak cerdas, kita bisa membedakannya antara fakta palsu dan asli.
Di luar itu semua, bom bunuh diri di Solo ini menyadarkan satu hal, bahwa ternyata kita belum benar-benar selesai dengan teror bom pasca Bom Bali tahun 2002. Jangan mudah terprovokasi dgn apapun itu. Sebarkan setiap nilai kebaikan sekecil dan sesepele apapun itu.
Be smart, be cool !
Berita terkait


Si Karti ini usianya diatas 50 tahun, jadi mungkin lebih pantas dipanggil “Mak”, “Simbok”, eh tapi mbak itu kan panggilan untuk perempuan..hahahahaha… jadi tidak masalah dipanggil mbak.
bagus,,, dn tak diduga,,,,
ga kaget kejadian seperti ini ….
biasanya si jurnalis ini emang sukanya asal ambil org di sekitarnya kok …. dan gampang dipengaruhi tanpa harus kroscek ulang ….
hihihihihihi ……
Cara yang dilakukan R adalah yang ideal. Kondisi netral, tenang, biasa, dan tidak ada tuntutan atau paksaan apa2, jadi akan memunculkan sesuatu yang sejati *opoiki*
Sebagai orang awam, saya juga menyimpulkan, untuk dapat menemukan sesuatu yang sejati butuh usaha. Istilah usahane “nyaru” bukan menjadi saru, nyampur, bersatu, blending, berbaur, …
Satu lagi yang sering kita lupa adalah empati. Wartawan perlu melihat siapa yang diwawancarai, siapa di depannya. Kalau mbah2, yo pertanyaannya yang dapat dipahami mbah2. Kalau sama mahasiswa, ya ala mahasiswa. Minimal diusahakan gitu
Jangan sampai berbicara tingkat tinggi dengan orang awam. Eh, jangan-jangan mbake’ njawabe memang bener digiring2 yo..
Berarti perlu ada gerakan, gerakan tidak menjawab pertanyaan wawancara saat kondisi sudah tidak netral lagi. Sayangnya, orang-orang cenderung sudah senang dulu saat diwawancarai, jadi gembira juga kalau masuk tv atau radio, ngomong ngalor ngidul seperti yang mereka lihat sehari-hari di infotainment