From Zero to Hero

4 Oct

Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk presentasi (tema bebas yang penting asik, nah lho) di acara Malam Keakraban a.k.a Makrab yang dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa semester 1. Akhirnya, setelah putar otak, judul presentasinya adalah “From Zero to Hero”. Berikut adalah ringkasan cepat.

Kalau fase kehidupan bisa dipilih, mungkin fase yang paling banyak diinginkan adalah saat berseragam putih abu-abu. Namun toh, kehidupan itu tidak berhenti. Kita dipaksa untuk bergerak, terlepas kita mau atau tidak. Kehidupan menyeret kita ke fase-fase selanjutnya yang bisa jadi membuat kita tidak nyaman. Setelah lulus SMU, beberapa diantaranya melanjutkan kuliah, dan dari jumlah itu ada sebagian yang memilih untuk melanjutkan di PTN/PTS luar kota. Kehidupan kost-kostan pun mulai dijalani. Menurut saya sih, ngekost itu menjanjikan banyak pilihan hidup. Mulai dari kegalauan tiada tara, sampai yang menyenangkan, yakni kebebasan tanpa batas. Ups.

Tiga bulan pertama, biasanya mahasiswa baru ini sudah mulai beradaptasi dengan kehidupan kampus. Sudah mulai punya komunitas, sudah mulai jadi “anak gaul”. Semua hiburan dijabanin, walaupun kadang merogoh kocek dalam.

Tiga bulan selanjutnya, sudah akan kelihatan, mahasiswa-mahasiswa baru ini akan menjelma seperti apa. Mahasiswa gaul? mahasiswa culun bin kuper? mahasiswa yang hobi nongkrong ga jelas? mahasiswa penyendiri? atau bagaimana?

Nah, apapun wujud mahasiswa itu nantinya,  tidak ada satupun yang ingin gagal (boleh gagal tapi setelah itu bangun kembali). Semuanya ingin sukses. Minimal sukses membahagiakan orang-orang disekitar kita. Berguna untuk lingkungan dan mencapai cita-cita sesuai dengan passion kita masing-masing.

Saya percaya, bahwa semua orang disiapkan untuk menjadi orang sukses (sukses dengan parameter yang baik). Yang membedakan hanyalah di level apa posisi kita sekarang, dan sekuat apa kita tidak mudah jatuh saat gagal dan kesedihan datang. Mengapa begitu, karena tidak ada kesuksesan yang datang dengan proses yang instan. Sukses adalah milik semua insan.

“Size” doesnt Matter

“Size” disini bisa diartikan macam-macam. Tapi pada intinya adalah, apapun kondisi kamu, tidak ada alasan untuk menjadikan hal itu sebagai halangan untuk berhasil. Mesin gol Barca, Lionel Messi hanya punya tinggi badan 169 cm. Bandingkan dengan bomber lain. Cristiano Ronaldo (185 cm), Fernando Torres (186 cm), Wayne Rooney (178 cm) dan Samuel Etoo (180 cm).  Dengan “size” minimal toh dia bisa berprestasi.  Selain mencetak 194 gol, dia adalah pemegang gelar pemain terbaik Eropa, pemain terbaik versi FIFA, dan pemegang sepatu emas Eropa. Selama 6 tahun karirnya di dunia persepakbolaan total ada 43 gelar individu. Yap, size doesnt matter !!!!

Dont Give Up

Barangkali ini adalah resep paling mudah dilafalkan bagi setiap insan yang ingin berhasil. Ada banyak figur yang bisa dijadikan contoh atas setiap usaha yang tak pernah putus. Yang paling simpel, cobalah mencari tau via internet pemain sepakbola Indonesia yang kita sedang terkenal dan juga baik attitudenya. Rata-rata dari mereka memulai usaha itu sejak usia dini. Berangkat dari keluarga yang biasa-biasa saja. Berasal dari kota kecil yang mungkin di peta saja tidak tampak. Tapi toh, setiap step usaha itu harus dilakukan dengan penuh gairah, penuh passion. Karena jika kita berhenti di step kesekian, maka keberhasilan di step selanjutnya tidak akan bisa diraih. heheheh.

From Nothing to Something

Sekali lagi, guru yang baik itu berasal dari teladan. Contoh hidup, rumus yang sudah dilakukan. Dari orang-orang yang senantiasa bangkit pada saat gagal lah kita bisa mencontoh melakukan hal yang serupa. Sukses atau berhasil memang bisa berupa apapun, tp satu yang pasti jangan mengasihani diri terlalu dalam ketika kita jatuh. Buktinya, ada banyak tokoh yang keberhasilannya justru berawal dari kondisi yang tidak menyenangkan.

(data-data ini hasil saya googling di internet) Michael Jordan yang terkenal itu, selama karirnya ternyata gagal menyarangkan bola sebanyak 9000 kali. Bill Gates yang oleh Forbes ditasbihkan sebagai orang kaya sejagad dulunya berprofesi sebagai office boy. Einstein itu hingga usia 7 tidak bisa membaca. Sebelum sukses membangun gerai-gerai makan cepat saji seperti sekarang ini, resep KFC ditolak 1000 restoran yang sudah mapan. Toyota Motors pernah menolak lamaran kerja Mr Honda muda, sebelum ia sukses seperti sekarang ini. Mantan CEO Apple Steve Jobs adalah bekas pemulung kaleng dan badut. Atau, Isaac Newton, penemu hukum gravitasi yang pada saat kecil dianggap bodoh karena sulit menerima materi pelajaran sekolah.

Tidak satupun orang di dunia ini yang hidup tanpa kegagalan, tanpa rasa sakit. Semua mengalaminya. Percayalah, semua proses itu ada gunanya, dan bahkan kita harus berterimakasih kepadanya.

Terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,
Adalah salah berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,
Karena rasa sakit adalah pertahanan tubuh kita.
Tak peduli seberapa tak sukanya kita,
Dan tak ada yang suka rasa sakit,
Rasa sakit itu penting,
Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterimakasih

Bagaimana lagi kita bisa tahu,
Untuk menarik tangan kita dari api?
Jari kita dari belati  ?
Kaki kita dari dari duri ?
Jadi rasa sakit itu penting
Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterimakasih

Namun,
Ada sejenis rasa sakit yang tidak ada gunanya,
Itulah rasa sakit kronis,
Itulah pasukan elit rasa sakit yang bukan untuk pertahanan,
Itu adalah kekuatan yang menyerang,
Penyerang dari dalam,
Penghancur kebahagiaan pribadi,
Penyerang ganas bagi kemampuan pribadi,
Penyerbu tak kenal lelah bagi kedamaian pribadi,
Dan, pelecehan berkelanjutan bagi hidup

Rasa sakit kronis adalah aral rintang terberat bagi pikiran.
Kadang rasa sakit itu nyaris mustahil untuk dilampaui,
Namun kita harus mencoba,
Dan mencoba,
Dan mencoba,
Sebab jika tidak, ia akan menghancurkan kita.

Dan,
Dari pertempuran itu akan muncul hal-hal yang baik,
Kepuasan penaklukan rasa sakit.
Pencapaian kebahagiaan dan kedamaian,
Pada kehidupan sekalipun darinya.
Ini sungguhlah suatu pencapaian,
Pencapaian yang sangat istimewa, sangat pribadi,
Rasa akan kekuatan,
Kekuatan batiniah,
Yang harus dialami untuk bisa dipahami.

Jadi,
Kita semua harus menerima rasa sakit,
Sekalipun rasa sakit yang merusak.
Karena itu bagian dari segala sesuatu,
Dan pikiran dapat mengatasinya,
Dan pikiran akan menjadi lebih kuat dalam mengalaminya.

By; Jonathan Wilson Fuller
Puisi ini ditulis saat ia berusia 9 thn
(dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayanganya)

*Salam

Note:

- Beberapa data dan fakta tulisan diatas adalah hasil googling di Internet

- Sejatinya setelah mempresentasikan ini, saya terpekur kaku. Sungguh, memotivasi orang lain itu mudah, sebaliknya memotivasi diri sendiri itu butuh kemauan, momentum dan dukungan semesta.

Advertisement

3 Responses to “From Zero to Hero”

  1. kHie October 4, 2011 at 15:11 #

    Bu, yang puisi itu sekalian curhat ya? #dikeplak

    • onlysenja October 4, 2011 at 20:36 #

      Iyaaaa, curhatan mu ituuhhhh…jiakakakak. puwas puwas !!!!!!

  2. stwn October 17, 2011 at 16:26 #

    Teringat kemarin malam main kuis2an, teringat sekarang terbitan blog ini

    Budiman sudjatmiko mengutip Nietzsche. Saya kira Ia kurang pas dalam mengartikan “kill” dengan menghancurkan. Mungkin Ia lupa kata-katanya

    “What doesn’t kill you, makes you stronger” demikian kutipannya. Jika dihubungkan dengan tema tambahan pada terbitan blog ini, maka sakit yang kita alami termasuk dalam kategori yang tidak membunuh. Karena kita tak mati

    Sehingga kalau boleh menyimpulkan, sesuai kutipan, sakit-sakit itu akan membuat kita lebih kuat, dan lebih kuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.